Kawasan pesisir Banten yang rawan akan aktivitas tektonik menuntut tingkat Siap Siaga Bencana yang sangat tinggi dari seluruh elemen masyarakat, termasuk institusi pendidikan kesehatan. STIKES Pandeglang baru-baru ini menyelenggarakan simulasi medis berskala besar untuk mempersiapkan mahasiswa dan tenaga kesehatan dalam menghadapi potensi bencana tsunami yang sewaktu-waktu bisa mengancam. Kegiatan ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan upaya untuk membangun naluri penyelamatan dan manajemen krisis di tengah kondisi darurat yang penuh kekacauan.
Konsep Siap Siaga Bencana yang diusung dalam simulasi ini mencakup prosedur triase atau pemilahan pasien berdasarkan tingkat keparahan luka di bawah tekanan waktu yang sangat singkat. Mahasiswa dilatih untuk bekerja dengan peralatan terbatas namun tetap harus menjaga standar keselamatan nyawa. Dalam skenario tsunami, tantangan utama adalah penanganan korban dengan trauma fisik berat, hipotermia, serta risiko infeksi akibat paparan air laut yang kotor. Simulasi ini menuntut kecepatan berpikir dan koordinasi yang apik antar tim agar tidak terjadi kegagalan sistem dalam pelayanan medis darurat.
Selain penanganan fisik, program Siap Siaga Bencana ini juga menyentuh aspek psikologis korban. Mahasiswa diajarkan cara melakukan pertolongan pertama psikologis (Psychological First Aid) untuk meredakan kepanikan massa saat bencana terjadi. Mengingat Pandeglang pernah memiliki sejarah kelam dengan tsunami, memori kolektif masyarakat terhadap bencana tersebut sangatlah kuat. Oleh karena itu, tenaga kesehatan masa depan harus mampu menjadi penenang sekaligus pemberi solusi medis di tengah situasi yang mencekam, memastikan bahwa evakuasi medis berjalan secara terorganisir menuju zona aman.
Pihak STIKES Pandeglang menekankan bahwa Siap Siaga Bencana adalah kompetensi wajib yang harus dimiliki oleh lulusannya. Mengingat letak geografis sekolah yang berada di zona merah rawan bencana, setiap mahasiswa diharapkan tidak hanya mahir di bangku kuliah tetapi juga tangguh di lapangan. Kolaborasi dengan BPBD dan tim SAR dalam simulasi ini memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa mengenai bagaimana birokrasi dan operasional penyelamatan berlangsung di dunia nyata. Hal ini sangat penting agar saat bencana sesungguhnya terjadi, tidak ada lagi keraguan dalam mengambil keputusan medis.
Melalui kegiatan ini, kesadaran akan pentingnya Siap Siaga Bencana diharapkan dapat menular kepada masyarakat luas di sekitar kampus. Mahasiswa kesehatan berperan sebagai edukator bagi warga desa pesisir mengenai jalur evakuasi dan tindakan pertama saat tanda-tanda alam muncul. Dengan persiapan yang matang dan simulasi yang berkelanjutan, risiko korban jiwa dapat diminimalisir secara signifikan. Pandeglang membutuhkan tenaga medis yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki mental baja untuk berdiri tegak di barisan terdepan saat alam menunjukkan kekuatannya.
