Kualitas udara di wilayah pesisir Pandeglang kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat setelah meningkatnya aktivitas pembakaran energi fosil secara masif. Fenomena Polusi PLTU yang menyebarkan partikel halus ke pemukiman penduduk telah menyebabkan ribuan warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, mengeluhkan gangguan kesehatan kronis pada saluran pernapasan. Setiap pagi, jelaga hitam tipis terlihat menempel di teras rumah dan tanaman warga, menjadi bukti nyata betapa buruknya kualitas oksigen yang mereka hirup setiap harinya tanpa ada proteksi yang memadai dari pihak pengelola industri.
Kandungan logam berat dan zat kimia berbahaya yang terbawa oleh angin dari cerobong raksasa tersebut disinyalir menjadi pemicu utama meningkatnya kasus ISPA dan asma di desa-desa sekitar. Dampak buruk dari Polusi PLTU ini tidak hanya menyerang paru-paru manusia, tetapi juga mulai merusak ekosistem pertanian dan perikanan lokal yang menjadi tumpuan ekonomi warga setempat. Banyak petani mengeluh hasil panen mereka menurun drastis karena daun-daun tanaman tertutup debu pekat, sementara para nelayan harus melaut lebih jauh karena suhu air laut di sekitar pembuangan limbah bahang terus meningkat secara tidak alami.
Masyarakat terdampak kini mulai menggalang kekuatan untuk menuntut hak atas lingkungan yang sehat dan mendesak pemerintah agar melakukan audit lingkungan secara independen terhadap operasional pabrik tersebut. Pengabaian terhadap keluhan warga mengenai Polusi PLTU merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang serius, di mana keuntungan korporasi seolah lebih diutamakan daripada keselamatan nyawa rakyat kecil. Pengetatan baku mutu emisi dan pemasangan alat filter udara yang lebih modern menjadi harga mati yang harus segera dipenuhi oleh pihak perusahaan untuk menekan laju penyebaran debu batubara yang kian tak terkendali.
Dinas kesehatan setempat melaporkan adanya lonjakan pasien di puskesmas-puskesmas terdekat dengan keluhan yang serupa, yakni sesak napas dan iritasi mata yang tajam akibat paparan sisa pembakaran. Jika penanganan terhadap Polusi PLTU ini terus ditunda, maka beban biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh negara dan masyarakat akan semakin membengkak di masa depan. Dibutuhkan komitmen nyata dari pemangku kebijakan untuk mulai beralih ke energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan agar warga Pandeglang tidak terus-menerus menjadi korban dari keserakahan industri energi yang merusak kesehatan secara perlahan namun pasti.
